MATERI GEOLOGI
Petrologi adalah bidang geologi yang
berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi pembentukannya. Ada tiga cabang
petrologi, berkaitan dengan tiga tipe batuan: beku, metamorf, dan sedimen. Kata
petrologi itu sendiri berasal dari kata Bahasa Yunani petra, yang berarti
“batu”. Petrologi batuan beku berfokus pada komposisi dan tekstur
dari batuan beku (batuan seperti granit atau basalt yang telah mengkristal dari
batu lebur atau magma). Batuan beku mencakup batuan volkanik dan
plutonik. Petrologi batuan sedimen berfokus pada komposisi dan tekstur
dari batuan sedimen (batuan seperti batu pasir atau batu gamping yang
mengandung partikel-partikel sedimen terikat dengan matrik atau material lebih
halus).
Petrologi batuan metamorf berfokus
pada komposisi dan tekstur dari batuan metamorf (batuan seperti batu sabak atau
batu marmer yang bermula dari batuan sedimen atau beku tetapi telah melalui
perubahan kimia, mineralogi atau tekstur dikarenakan kondisi ekstrim dari
tekanan, suhu, atau keduanya). Petrologi memanfaatkan bidang klasik mineralogi,
petrografi mikroskopis, dan analisa kimia untuk menggambarkan komposisi dan
tekstur batuan. Ahli petrologi modern juga menyertakan prinsip geokimia dan
geofisika dalam penelitan kecenderungan dan siklus geokimia dan penggunaan data
termodinamika dan eksperimen untuk lebih mengerti asal batuan. Petrologi
eksperimental menggunakan perlengkapan tekanan tinggi, suhu tinggi untuk
menyelidiki geokimia dan hubungan fasa dari material alami dan sintetis pada
tekanan dan suhu yang ditinggikan. Percobaan tersebut khususnya berguna utuk
menyelidiki batuan pada kerak bagian atas dan mantel bagian atas yang jarang
bertahan dalam perjalanan kepermukaan pada kondisi asli.
1.
Pengertian Batuan Beku
Batuan beku merupakan batuan yang terjadi dai pembekuan larutan silica cair dan pijar, yang kita kenal dengan nama magma. Karena tidak adanya kesepakatan dari para ahli petrologi dalam mengklasifikasikan batuan beku mengakibatkan sebagian klasifikasi dibuat atas dasar yang berbeda-beda. Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam menggunakan klasifikasi pada berbagai lapangan pekerjaan dan menurut kegunaannya masing-masing. Bila kita dapat menggunakan klasifikasi yang tepat, maka kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
2. Penggolongan Batuan Beku
Penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetic batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkadung, dan berdasarkan susunan mineraloginya.
2.1 Berdasarkan Genetik
Batuan beku terdiri atas kristal-kristal mineral dan kadang-kadang mengandung gelas, berdasarkan tempat kejadiannya (genesa) batuan beku terbagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Batuan beku dalam (pluktonik), terbentuk jauh di bawah permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat
sehingga batuan seluruhnya terdiri atas kristal-kristal (struktur
holohialin). contoh :Granit, Granodiorit, dan Gabro.
b. Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-celah atau pipa gunung api. Proses pendinginannya berlangsung relatif cepat sehingga batuannya terdiri atas kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasar sehingga membentuk struktur porfiritik. Contoh batuan ini dalah Granit porfir dan Diorit porfir.
c. Batuan beku luar (efusif) ,terbentuk di dekat permukaan bumi. Proses pendinginan sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Struktur batuan ini dinamakan amorf. Contohnya Obsidian, Riolit dan Batuapung.
b. Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-celah atau pipa gunung api. Proses pendinginannya berlangsung relatif cepat sehingga batuannya terdiri atas kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasar sehingga membentuk struktur porfiritik. Contoh batuan ini dalah Granit porfir dan Diorit porfir.
c. Batuan beku luar (efusif) ,terbentuk di dekat permukaan bumi. Proses pendinginan sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Struktur batuan ini dinamakan amorf. Contohnya Obsidian, Riolit dan Batuapung.
2.2. Berdasarkan Senyawa kimia
Berdasarkan
komposisi kimianya batuan beku dapat dibedakan menjadi:
a. Batuan beku ultra basa memiliki
kandungan silika kurang dari 45%. Contohnya Dunit dan Peridotit.
b. Batuan beku basa memiliki kandungan silika antara 45% – 52 %. Contohnya Gabro, Basalt.
c. Batuan beku intermediet memiliki kandungan silika antara 52%-66 %. Contohnya Andesit dan Syenit.
d. Batuan beku asam memiliki kandungan silika lebih dari 66%. Contohnya Granit, Riolit. Dari segi warna, batuan yang komposisinya semakin basa akan lebih gelap dibanding yang komposisinya asam.
b. Batuan beku basa memiliki kandungan silika antara 45% – 52 %. Contohnya Gabro, Basalt.
c. Batuan beku intermediet memiliki kandungan silika antara 52%-66 %. Contohnya Andesit dan Syenit.
d. Batuan beku asam memiliki kandungan silika lebih dari 66%. Contohnya Granit, Riolit. Dari segi warna, batuan yang komposisinya semakin basa akan lebih gelap dibanding yang komposisinya asam.
2.3. Berdasarkan susunan mineralogi
Klasifikasi yang didasarkan atas mineralogi dan tekstur akan dapat mencrminkan sejarah pembentukan battuan dari pada atas dasar kimia. Tekstur batuan beku menggambarkan keadaan yang mempengaruhi pembentukan batuan itu sendiri. Seperti tekstur granular member arti akan keadaan yang serba sama, sedangkan tekstur porfiritik memberikan arti bahwa terjadi dua generasi pembentukan mineral. Dan tekstur afanitik menggambarkan pembkuan yang cepat. Dalam klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russel B. Travis, tekstur batuan beku yang didasarkan pada ukuran butir mineralnya dapat dibagi menjadi :
a. Batuan dalam Bertekstur
faneritik yang berarti mineral-mineral yang menyusun batuan tersebut dapat
dilihat tanpa bantuan alat pembesar.
b. Batuan gang Bertekstur porfiritik dengan massa dasar faneritik.
c. Batuan gang Bertekstur porfiritik dengan massa dasar afanitik.
d. Batuan lelehan Bertekstur afanitik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
b. Batuan gang Bertekstur porfiritik dengan massa dasar faneritik.
c. Batuan gang Bertekstur porfiritik dengan massa dasar afanitik.
d. Batuan lelehan Bertekstur afanitik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau tidak dapat dilihat dengan mata biasa.
Menurut
Heinrich (1956) batuan beku dapat diklasifikasikan menjadi beberapa keluarga
atau kelompok yaitu:
1. keluarga granit –riolit:
bersifat felsik, mineral utama kuarsa, alkali felsparnya melebihi plagioklas
2. keluarga granodiorit –qz latit: felsik, mineral utama kuarsa, Na Plagioklas dalam komposisi yang berimbang atau lebih banyak dari K Felspar
3. keluarga syenit –trakhit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid tidak dominant tapi hadir, K-Felspar dominant dan melebihi Na-Plagioklas, kadang plagioklas juga tidak hadir
4. keluarga monzonit –latit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid hadir dalam jumlah kecil, Na-Plagioklas seimbang atau melebihi K-Felspar
5. keluarga syenit – fonolit foid: felsik, mineral utama felspatoid, K-Felspar melebihi plagioklas
6. keluarga tonalit – dasit: felsik hingga intermediet, mineral utama kuarsa dan plagioklas (asam) sedikit/tidak ada K-Felspar
7. keluarga diorite – andesit: intermediet, sedikit kuarsa, sedikit K-Felspar, plagioklas melimpah
8. keluarga gabbro – basalt: intermediet-mafik, mineral utama plagioklas (Ca), sedikit Qz dan K-felspar
9. keluarga gabbro – basalt foid: intermediet hingga mafik, mineral utama felspatoid (nefelin, leusit, dkk), plagioklas (Ca) bisa melimpah ataupun tidak hadir
10. keluarga peridotit: ultramafik, dominan mineral mafik (ol,px,hbl), plagioklas (Ca) sangat sedikit atau absen.
2. keluarga granodiorit –qz latit: felsik, mineral utama kuarsa, Na Plagioklas dalam komposisi yang berimbang atau lebih banyak dari K Felspar
3. keluarga syenit –trakhit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid tidak dominant tapi hadir, K-Felspar dominant dan melebihi Na-Plagioklas, kadang plagioklas juga tidak hadir
4. keluarga monzonit –latit: felsik hingga intermediet, kuarsa atau foid hadir dalam jumlah kecil, Na-Plagioklas seimbang atau melebihi K-Felspar
5. keluarga syenit – fonolit foid: felsik, mineral utama felspatoid, K-Felspar melebihi plagioklas
6. keluarga tonalit – dasit: felsik hingga intermediet, mineral utama kuarsa dan plagioklas (asam) sedikit/tidak ada K-Felspar
7. keluarga diorite – andesit: intermediet, sedikit kuarsa, sedikit K-Felspar, plagioklas melimpah
8. keluarga gabbro – basalt: intermediet-mafik, mineral utama plagioklas (Ca), sedikit Qz dan K-felspar
9. keluarga gabbro – basalt foid: intermediet hingga mafik, mineral utama felspatoid (nefelin, leusit, dkk), plagioklas (Ca) bisa melimpah ataupun tidak hadir
10. keluarga peridotit: ultramafik, dominan mineral mafik (ol,px,hbl), plagioklas (Ca) sangat sedikit atau absen.
3. Faktor-Faktor yang Diperhatikan Dalam Deskripsi Batuan Beku
a. Warna Batuan
Warna
batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.mineral penyusun
batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari
warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang
mempunyai tekstur gelasan. Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah
batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik,misalnya
kuarsa, potash feldsfar dan muskovit. Batuan beku yang berwarna gelap sampai
hitam umumnya batuan beku intermediet diman jumlah mineral felsik dan mafiknya
hampir sama banyak.
Batuan beku yang berwarna hitam
kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan
adalah mineral-mineral mafik.
b. Struktur Batuan
Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang berbeda.pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan dilapangan.pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:
a.
Masif : bila
batuan pejal,tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas
b. Jointing : bila batuan tampak seperti mempunyai retakan-retakan.kenapakan ini akan mudah diamati pada singkapan di lapangan.
c. Vesikular : dicirikandengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu: Skoriaan : bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.
b. Jointing : bila batuan tampak seperti mempunyai retakan-retakan.kenapakan ini akan mudah diamati pada singkapan di lapangan.
c. Vesikular : dicirikandengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu: Skoriaan : bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.
Pumisan
: bila lubang-lubang gas saling
berhubungan.
Aliran
: bila ada kenampakan aliran
dari kristal-kristal maupun lubang gas.
d. Amigdaloidal : bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder.
d. Amigdaloidal : bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder.
c. Tekstur Batuan
Pengertian tekstur batuan mengacu pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric). Jika warna batuan berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur berhubungan dengan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil dari rangkaian proses sebelum,dan sesudah kristalisasi. Pengamatan tekstur meliputi :
1. Tingkat kristalisasi
Tingkat
kristalisasi batuan beku dibagi menjadi:
·
Holokristalin, jika mineral-mineral dalam batuan semua berbentuk kristal-kristal.
·
Hipokristalin, jika sebagian berbentuk kristal dan sebagian lagi berupa mineral
gelas.
·
Holohialin, jika seluruhnya terdiri dari gelas.
b. Ukuran kristal
Ukuran
kristal adalah sifat tekstural yang paling mudah dikenali.ukuran kristal dapat
menunjukan tingkat kristalisasi pada batuan.
c. Granularitas
Pada
batuan beku non fragmental tingkat granularitas dapat dibagi menjadi beberapa
macam yaitu:
Equigranulritas Disebut equigranularitas apabila memiliki ukuran kristal yang seragam. Tekstur ini dibagi menjadi 2:
Equigranulritas Disebut equigranularitas apabila memiliki ukuran kristal yang seragam. Tekstur ini dibagi menjadi 2:
·
Fenerik
Granular
bila ukuran kristal masih bisa
dibedakan dengan mata telanjang
·
Afinitik
apabila ukuran kristal tidak
dapat dibedakan dengan mata telanjang atau ukuran kristalnya sangat
halus.
Inequigranular Apabila ukuran kristal tidak seragam. Tekstur ini dapat dibagi lagi
menjadi :
·
Faneroporfiritik bila kristal yang besar dikelilingi oleh kristal-kristal yang kecil
dan dapat dikenali dengan mata telanjang
·
Porfiroafinitik,bila fenokris dikelilingi oleh masa dasar yang tidak dapat dikenali dengan
mata telanjang.
·
Gelasan
(glassy) Batuan beku dikatakan memilimki
tekstur gelasan apabila semuanya tersusun atas gelas.
4. Bentuk Butir
·
Euhedral, bentuk kristal dari butiran mineral mempunyai bidang kristal yang
sempurna.
·
Subhedral,bentuk kristal dari
butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
·
Anhedral, berbentuk
kristal dari butiran mineral dibatasi oleh bidang kristal yang tidak
sempurna.
Komposisi Mineral
Berdasarkan
mineral penyusunnya batuan beku dapat dibedakan menjadi 4 yaitu:
1. Kelompok Granit –Riolit
Berasal dari magma yang bersifat asam,terutama tersusun oleh mineral-mineral
kuarsa ortoklas, plaglioklas Na, kadang terdapat
hornblende,biotit,muskovit dalam jumlah yang kecil.
2. Kelompok Diorit – Andesit Berasal dari magma yang bersifat intermediet,terutama tersusun atas mineral-mineral plaglioklas, Hornblande, piroksen dan kuarsa biotit,orthoklas dalam jumlah kecil
3. Kelompok Gabro – Basalt Tersusun dari magma yang bersifat basa dan terdiri dari mineral-mineral olivine,plaglioklas Ca,piroksen dan hornblende.
4. Kelompok Ultra Basa Tersusun oleh olivin dan piroksen.mineral lain yang mungkin adalah plagliokals Ca dalam jumlah kecil.
2. Kelompok Diorit – Andesit Berasal dari magma yang bersifat intermediet,terutama tersusun atas mineral-mineral plaglioklas, Hornblande, piroksen dan kuarsa biotit,orthoklas dalam jumlah kecil
3. Kelompok Gabro – Basalt Tersusun dari magma yang bersifat basa dan terdiri dari mineral-mineral olivine,plaglioklas Ca,piroksen dan hornblende.
4. Kelompok Ultra Basa Tersusun oleh olivin dan piroksen.mineral lain yang mungkin adalah plagliokals Ca dalam jumlah kecil.
e. Derajat Kristalisasi
Derajat
kristalisasi mineral dalam batuan beku, terdiri atas 3 yaitu :
·
Holokristalin
Tekstur batuan beku yang kenampakan
batuannya terdiri dari keseluruhan mineral yang membentuk kristal, hal ini
menunjukkan bahwa proses kristalisasi berlangsung begitu lama sehingga
memungkinkan terbentuknya mineral – mineral dengan bentuk kristal yang relatif
sempurna.
·
Hipokristalin
Tekstur batuan yang yang
kenampakannya terdiri dari sebagaian mineral membentuk kristal dan sebagiannya
membentuk gelas, hal ini menunjukkan proses kristalisasi berlangsung relatif
lama namun masih memingkinkan terbentuknya mineral dengan bentuk kristal yang
kurang.
·
Holohyalin
Tekstur
batuan yang kenampakannya terdiri dari mineral yang keseluruhannya berbentuk
gelas, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi magma berlangsung relatif
singkat sehingga tidak memungkinkan pembentukan mineral – mineral dengan bentuk
yang sempurna.
f. Sifat Batuan
Sifat
Batuan Beku dibagi menjadi 3 antara lain :
Asam (Felsik)
Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik.
Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik.
Intermediet
Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet diman jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak.
Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet diman jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak.
Basa
(Mafik)
Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.
Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.
Ultrabasa (Ultramafik )
Batuan
beku yang berwarna kehijauan dan berwarna hitam pekat dimna tersusun oleh
mineral – mineral mafic seperti olivin.
Mineralisasi
dan Alterasi dalam Sistem Hidrotermal
Larutan hidrotermal terbentuk pada
fase akhir siklus pembekuan magma. Interaksi antara larutan hidrotermal dengan
batuan yang dilewati akan menyebabkan terubahnya mineral-mineral penyusun
batuan samping dan membentuk mineral alterasi. Larutan hidrotermal tersebut
akan terendapkan pada suatu tempat membentuk mineralisasi (Bateman, 1981).
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pengendapan mineral di dalam sistem hidrotermal
terdiri dari empat macam (Barnes, 1979; Guilbert dan Park, 1986), yaitu: (1)
Perubahan temperatur; (2) Perubahan tekanan; (3) Reaksi kimia antara fluida
hidrotermal dengan batuan yang dilewati; dan (4) Percampuran antara dua larutan
yang berbeda. Temperatur dan pH fluida merupakan faktor terpenting yang
mempengaruhi mineralogi sistem hidrotermal. Tekanan langsung berhubungan dengan
temperatur, dan konsentrasi unsur terekspresikan di dalam pH batuan hasil
mineralisasi (Corbett dan Leach, 1996).
Guilbert dan Park (1986) mengemukakan
alterasi merupakan perubahan di dalam komposisi mineralogi suatu batuan
(terutama secara fisik dan kimia), khususnya diakibatkan oleh aksi dari fluida
hidrotermal. Alterasi hidrotermal merupakan konversi dari gabungan beberapa
mineral membentuk mineral baru yang lebih stabil di dalam kondisi temperatur,
tekanan dan komposisi hidrotermal tertentu (Barnes, 1979; Reyes, 1990 dalam
Hedenquist, 1998). Mineralogi batuan alterasi dapat mengindikasikan komposisi
atau pH fluida hidrotermal (Henley et al., 1984 dalam Hedenquist, 1998).
Corbett dan Leach (1996) mengemukakan
komposisi batuan samping berperan mengkontrol mineralogi alterasi. Mineralogi
skarn terbentuk di dalam batuan karbonatan. Fase adularia K-feldspar
dipengaruhi oleh batuan kaya potasium. Paragonit (Na-mika) terbentuk pada
proses alterasi yang mengenai batuan berkomposisi albit. Muskovit terbentuk di
dalam alterasi batuan potasik.
Sistem pembentukan mineralisasi di
lingkaran Pasifik secara umum terdiri dari endapan mineral tipe porfiri,
mesotermal sampai epitermal (Corbett dan Leach, 1996). Tipe porfiri terbentuk
pada kedalaman lebih besar dari 1 km dan batuan induk berupa batuan intrusi.
Sillitoe, 1993a (dalam Corbett dan Leach, 1996) mengemukakan bahwa endapan
porfiri mempunyai diameter 1 sampai > 2 km dan bentuknya silinder.
Tipe mesotermal terbentuk pada
temperatur dan tekanan menengah, dan bertemperatur > 300oC
(Lindgren, 1922 dalam Corbett dan Leach, 1996). Kandungan sulfida bijih terdiri
dari kalkopirit, spalerit, galena, tertahidrit, bornit, dan kalkosit. Mineral
penyerta terdiri dari kuarsa, karbonat (kalsit, siderit, rodokrosit), dan
pirit. Mineral alterasi terdiri dari serisit, kuarsa, kalsit, dolomit, pirit,
ortoklas, dan lempung.
Tipe epitermal terbentuk di
lingkungan dangkal dengan temperatur < 300oC, dan fluida
hidrotermal diinterpretasikan bersumber dari fluida meteorik. Endapan
tipe ini merupakan kelanjutan dari sistem hidrotermal tipe porfiri, dan
terbentuk pada busur magmatik bagian dalam di lingkungan gunungapi kalk-alkali
atau batuan dasar sedimen (Heyba et al., 1985 dalam Corbett dan Leach, 1996).
Sistem ini umumnya mempunyai variasi endapan sulfida rendah dan sulfida tinggi
(gambar 4). Mineral bijih terdiri dari timonidsulfat, arsenidsulfat, emas dan
perak, stibnite, argentit, cinabar, elektrum, emas murni, perak murni, selenid,
dan mengandung sedikit galena, spalerit, dan galena. Mineral penyerta terdiri
dari kuarsa, ametis, adularia, kalsit, rodokrosit, barit, flourit, dan hematit.
Mineral alterasi terdiri dari klorit, serisit, alunit, zeolit, adularia,
silika, pirit, dan kalsit.
Gambar 3: Model mineralisasi
emas-perak lingkaran Pasifik
(Corbett, 2002)
Gambar 4: Model fluida
sulfida tinggi dan rendah (Corbett dan Leach, 1996)
Morrison, 1997,
mengemukakan beberapa asosiasi mineral petunjuk sistem hipogen dalam proses
magmatik yang berhubungan dengan mineralisasi epigenetik sebagai berikut:
Tabel 1: Asosiasi mineral
petunjuk sistem hipogen dalam proses magmatik yang
berhubungan dengan
mineralisasi epigenetik (Morrison, 1997).
Zonasi alterasi dapat
mempunyai bentuk geometri yang berbeda-beda, mulai dari bentuk konsentris,
linier, sampai tidak teratur dan komplek. Zonasi alterasi endapan Porfiri Cu
mempunyai bentuk konsentris. Bagian inti/tengah terdiri dari alterasi potasik,
berkomposisi potasium feldspar dan biotit. Bagian tengah merupakan zonasi
alterasi philik tersusun oleh kuarsa-serisit-pirit. Bagian paling luar mempuyai
alterasi propilitik, mineraloginya tersusun oleh kuarsa-klorit-karbonat, dan
setempat-setempat terdapat epidot, albit atau adularia. Endapan epitermal
berbentuk urat/vein yang berasosiasi dengan struktur mayor mempunyai pola
linier dan paralel dengan arah struktur. Urut-urutan zonasi alterasi dari
temperatur tinggi ke temperatur rendah adalah argilik sempurna, serisit,
argilik, dan propilitik.
Mineralisasi/alterasi
endapan urat yang berasosiasi dengan endapan logam dasar dicirikan oleh zonasi
pembentukan mineral dari temperatur tinggi sampai rendah. Urat/vein di daerah
proksimal kaya kandungan tembaga dan rasio logam dibanding sulfur tinggi.
Daerah ini dicirikan oleh hadirnya alterasi argillik sempurna di bagian dalam
dan ke arah luar berubah menjadi alterasi serisitik. Daerah distal kaya
kandungan timbal dan zeng, dan terdiri dari mineral sulfida dengan rasio logam
dibanding sulfur rendah. Alterasi yang berkembang di daerah ini berupa alterasi
propilitik, semakin ke arah jauh dari urat tersusun oleh batuan tidak
teralterasi (Panteleyev, 1994; Corbett, 2002).
Tabel 2: Dominasi
komposisi mineralisasi/alterasi pada temperatur tinggi dan rendah
(disederhanakan dari
Corbett, 2002)
|
TEMPERATUR TINGGI
|
TEMPERATUR RENDAH
|
|
Kalkopirit
|
Galena, spalerit
|
|
Kuarsa kristalin (comb stucture)
|
Kalsedon-opal
|
|
Kuarsa butir kasar
|
Kuarsa butir halus
|
|
Serisit
|
Smektit-illit
|
|
Philik
|
Propilitik
|
Gambar 5: Zonasi
proksimal – distal tipe endapan urat logam dasar yang berasosiasi dengan
endapan porfiri tembaga/molibdenum (Panteleyev, 1994)
GuilbertdanPark, 1986, mengemukakan
model hubungan antara mineralisasi dan alterasi dalam sistem epitermal (gambar
6). Beberapa asosiasi mineral bijih maupun mineral skunder erat hubungannya
dengan besar temperatur larutan hidrotermal pada waktu mineralisasi. Mineral
bijih galena, sfalerit dan kalkopirit terbentuk pada horison logam dasar bagian
bawah dengan temperatur ≥ 350oC. Pada horison ini alterasi bertipe
argilik sempurna dan terbentuk mineral alterasi temperatur tinggi seperti
adularia, albit dan feldspar. Fluida hidrotermal di horison logam dasar (bagian
tengah) bertemperatur antara 200o- 400oC. Mineral bijih terdiri
dari argentit, elektrum, pirargirit dan proustit. Mineral ubahan terdiri dari
serisit, adularia, ametis, sedikit mengandung albit. Horison bagian atas
terbentuk pada temperatur < 200oC. Mineral bijih terdiri dari emas di
dalam pirit, Ag-garamsulfo dan pirit. Mineral ubahan berupa zeolit, kalsit,
agat.
Gambar 6: Alterasi
hubungannya dengan mineralisasi dalam tipe endapan epitermal
logam dasar (Guilbert dan
Park, 1986)
Berdasarkan pada kisaran
temperatur dan pH, komposisi alterasi pada sistem emas-tembaga hidrotermal di
lingkaran Pasifik dapat dikelompokan menjadi 6 tipe alterasi (Corbett dan
Leach, 1996), yaitu:
1) Argilik sempurna
(silika pH rendah, alunit, dan group mineral alunit-kaolinit.
2) Argilik tersusun oleh
anggota kaolin (halosit, kaolin, dikit) dan illit (smektit, selang-seling
illlit-smektit, illit) dan group mineral transisi (klorit-illit).
3) Philik tersusun oleh
anggota kaolin (piropilit-andalusit) dan illit (serisit-mika putih) berasosiasi
dengan mineral pada temperatur tinggi seperti serisit-mika-klorit.
4) Subpropilitik tersusun
oleh klorit-zeolit yang terbentuk pada temperatur rendah dan propilitik
tersusun oleh klorit-epidot-aktinolit terbentuk pada temperatur rendah.
5) Potasik tersusun oleh
biotit-K-feldspar-aktinolit+klinopiroksen.
6) Skarn tersusun oleh
mineral kalk-silikat (Ca-garnet, klinopiroksen, tremolit).
Gambar 7: Mineralogi alterasi di dalam sistem hidrotermal (Corbett dan
Leach, 1996)
Gambar 7: Mineralogi
alterasi di dalam sistem hidrotermal (Corbett dan Leach, 1996)
Genesa/Genesis mineral
merupakan tempat atau lingkungan dimana suatu mineral terbentuk. Ada 3 macam
genesa mineral, yaitu:
·
Lingkungan magmatik
·
Lingkungan sedimen
·
Lingkungan metamorfik
A. Lingkungan Magmatik
Lingkungan ini mempunyai
karakter yang sangat khas, yaitu memiliki tekanan dan temperatur yang sangat
tinggi, dan tentunya sangat berhubungan dengan aktivitas magma. Berdasarkan
keterjadiannya, lingkungan magmatik ini dibagi menjadi empat tipe, yaitu Batuan beku, Pegmatit, Urat
hidrotermal, dan Deposit mata
air panas.
1. Batuan Beku
Tersusun atas
mineral-mineral yang sederhana. Terdapat 7 kelompok mineral yang terdapat pada
batuan beku, yaitu : kelompok kuarsa, feldspar, feldspatoid, piroksen,
hornblende, biotit, dan olivin. Kisaran jumlah dari mineral-mineral penting
yang terdapat dalam batuan beku sangat lebar. Ada juga batuan beku yang
mengandung hampir 100% mineral yang sama, contohnya seperti Dunityang hampir seluruhnya
tersusun atas mineral olivine.
Berdasarkan warnanya,
mineral batuan beku dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu Leucocratic (terang),Mesocratic (sedang), dan Melanocratic (gelap).Pengelompokkan ini didasarkan pada
kandungan dari mineral fero-magnesium. Semakin banyak kandungan mineral
tersebut, maka warna nya akan semakin gelap.
Lingkungan geologi
tertentu akan memberikan pengaruh tertentu yang tercermin terhadap ukuran butir
mineralnya. Selain itu tekstur pada batuan beku juga mencerminkan kondisi
pembekuannya, urutan kristalisasi, komposisi, viskositas magma, kecepatan
pembekuan, dan pertumbuhan kristalnya.
Pembekuan kristal yang
cepat akan menghasilkan kristal yang kecil. Hal ini disebabkan karena tidak
tersedia waktu yang cukup untuk membentuk kristal yang sempurna. Biasanya
terjadi di permukaan saat kontak langsung dengan air ataupun udara saat magma
keluar. Tekstur yang dihasilkan adalah afanitik (halus). Sedangkan, pembekuan yang
lambat akan menghasilkan membentuk kristal yang besar, karena masih memiliki
waktu yang cukup untuk membentuk itu. Pembekuan yang lambat ini terjadi di
dalam perut bumi, dan menghasilkan batuan beku dengan tekstur faneritik(kasar).
Berdasarkan kandungan
SiO2 nya, batuan beku dibedakan menjadi 4 jenis.
Batuan beku asam yang mengandung lebih dari 65% silika, ex: Granit.
Batuan beku asam yang mengandung lebih dari 65% silika, ex: Granit.
Batuan beku menengah
(intermediate) yang mengandung silika antara 53%-65%, ex: Diorit, Syenit.
Batuan beku basa dengan
kandungan silika antara 45%-53%, ex: Gabbro.
Batuan beku ultrabasa
yang mengandung silika <45 dunit="dunit" ex:="ex:"
peridotit.="peridotit." span="span">
2. Pegmatit dan Urat-Urat
Hidrotermal
Pegmatit ini terbentuk
dari cairan silikat sisa proses kristalisasi fraksional yang kaya akan
kandungan alkali, alumunium, mengandung air, dan zat volatil. Cairannya tidak
selalu berbentuk cair disebabkan karena konsentrasi volatil. Apabila mencukupi,
tekanan volatil akan menginjeksi cairan di sepanjang permukaan lemah pada
batuan yang merupakan bagian dari batuan beku intrusi yang sama, ataupun batuan
lain yang sudah terbentuk lebih awal.
Kebanyakan pegmatit yang
dijumpai berasosiasi dengan batuan plutonik, umumnya granit. Pegmatit granit
terutama tersusun oleh kuarsa dan feldspar alkali, serta sejumlah muskovit dan
biotit. Dengan demikian, komposisinya mirip dengan granit, namun berbeda dalam
tekstur. Pegmatit bertekstur khusus, yaitu berbutir sangat kasar, dan berbentuk
tabular.
3. Deposit Hidrotermal
Merupakan pengembangan
dari pegmatit. Ciri-cirinya adalah urat-urat yang mengandung sulfida, yang
mengisi rekahan pada batuan semula. Namun juga dapat berupa suatu massa tak
teratur, yang mengganti seluruh atau sebagian batuan. Proses hidrotermal ini
merupakan suatu proses yang penting dalam pembentukan mineral-mineral bijih.
Berdasarkan tingkat kedalaman dan suhunya, deposit hidrotermal dibagi menjadi 3
jenis, yaitu :
·
Deposit hidrotermal : suhu antara 300-500 derajat C, dan terbentuk di
kedalaman yang sangat dalam. Dicirikan oleh mineral Molibdenit[MoS2], Kasiterit [SnO2], Skhelit [CaWO4].
·
Deposit mesotermal : suhu antara 200-300 derajat C, dengan kedalaman yang
menengah. Mineral yang mecirikannya adalah mineral-mineral sulfida
seperti Pirit [FeS2], Galena[PbS]. Urat kuarsa
mengandung emas yang merupakan suatu deposit penting, mungkin adalah deposit
mesotermal.
·
Deposit epitemal : terbentuk pada temperatur rendah, antara 50-200
derajat C. Mineral pencirinya adalah Perak native [Ag], Emas native [Au], Silvanit [(Au,Ag)Te2].
4. Deposit Air Panas dan Fumarol
Deposit air panas merupakan
hidrotermal yang sampai ke permukaan. Mineral yang dijumpai adalah silika opal,
sejumlah kecil sulfur, dan sulfida. Sedangkan, deposit fumarol terdapat
pada gunungapi yang masih aktif. Gas-gas panasnya mengendapkan mineral-mineral
seperti sulfur, dan khlorida, terutama Khlorida Amonium [NH3Cl]. Selain itu,
mungkin juga terdapat Magnetit [Fe3O4], Hematite[Fe2O3], dan Realgar [AsS].
B. Lingkungan Sedimen
Proses sedimentasi
merupakan perpaduan dari interaksi atmosfer dan hidrosfer terhadap lapisan
kerak bumi. Dalam proses sedimentasi terdapat fase pelapukan, yang dapat
menyebabkan mineral berubah menjadi mineral-mineral baru yang bersifat lebih
stabil daripada sebelumnya.
Pada kebanyakan
lingkungan pengendapan, proses yang berlangsung adalah oksidasi karena terkena
pengaruh dari atmosfer. Namun, di beberapa tempat ada yang tidak terkena kontak
atmosfer, sehingga proses yang berlangsung adalah reduksi.
Berdasarkan stabilitas
mineralnya, lingkungan sedimen dibagi menjadi 6 klasifikasi:
1. Resistat
Merupakan endapan yang
tersusun atas mineral yang tahan terhadap pelapukan, sehingga tidak mengalami
perubahan. Salah satu mineral yang dikenal paling tahan terhadap pelapukan
adalah Kuarsa [SiO2]. Kadar silika
dalam sedimen-sedimen resistat dapat mencapai 90%, sehingga sangat cocok untuk
digunakan sebagai sumber dalam perindustrian.
Mineral-mineral lainnya
yang tahan terhadap pelapukan adalah Zirkon [ZrSiO4], Andalusit [Al2SiO5], Topaz [Al2SiO4(OH,F)2].
Endapan resistat disebut juga sebagai “placer deposit” karena bernilai ekonomi.
2. Hidrolisat
Terbentuk dari
mineral-mineral silikat yang mengalami proses dekomposisi kimia. Mineral yang
paling umum terdapat di endapan ini adalah mineral lempung, berupa
aluminosilikat hidrat yang bertekstur filosilikat dengan ukuran butir yang
sangat halus.
Di daerah tropis, tempat
dimana perbedaan basah dan kering sangat kontras, proses pelapukan akan terjadi
lebih baik, dan dapat menghasilkan endapan aluminosilikat yang sangat bagus.
Yaitu, dengan hilangnya kandungan silika, dan meninggalkan residu berupa oksida
alumunium hidrat, seperti Gibsit [Al(OH)3]. Residu ini dikenal dengan
“endapan bauksit”, merupakan endapan komersial yang menghasilkan bijih
alumunium.
3. Oksidat
Merupakan endapan
hidroksida feri, yang merupakan hasil oksidasi senyawa besi dalam suatu
larutan, dan mengendap. Contohnya adalah Gutit [HFeO2] yang memberikan warna coklat,
dan Hematit [Fe2O3] yang memberikan
warna merah. Bila kedua mineral ini terdapat dalam jumlah yang besar, maka
dapat menjadi sangat bernilai karena bijih besinya.
Mineral lainnya yang
terdapat pada endapan oksidat adalah mangan. Contohnya adalah Manganit [MnO(OH)], dan Psilomelane [(Ba,H2O)2Mn5O10], yang
sebagian besar tersusun atas MnO2.
4. Reduzat
Terbentuk karena proses
reduksi, dikarenakan tempat terbentuknya yang terisolir dari atmosfer, sehingga
kekurangan oksigen. Endapan jenis ini jarang sekali dijumpai.
Di laut, biasanya endapan
ini terdapat pada daerah palung. Dengan kondisi yang tenang, pengendapan
material-material organik, akan menyebabkan berkurangnya oksigen, dan terbentuk
H2S. Contoh mineral yang terbentuk adalah Pirit (pada keadaan asam), dan Markasit
(pada keadaan yang lebih asam).
Di darat, pengendapan
dari bahan rombakan tumbuhan-tumbuhan akhirnya akan berubah menjadi
lapisan-lapisan batubara. Dengan keadaan reduksi yang tinggi, memungkinkan
terjadinya pengendapan karbonat fero berupa Siderit, yang dapat digunakan
menjadi deposit bijih besi.
Mineral lain yang
terbentuk dalam suasana reduksi adalah Sulfur [Cu], yang biasanya dijumpai
berasosiasi dengan kubah garam dan minyak bumi.
5. Presipitat
Endapan ini berhubungan
dengan berbagai aktivitas organisme yang mensekresi gamping, maka dari itu
tempat yang paling baik bagi pengendapan jenis ini (karbonatan) adalah di bawah
laut.
Bentuk kalsium karbonat
yang paling stabil adalahKalsit, namun dapat juga terbentuk Aragonit. Araganit dapat berubah menjadi kalsit,
ataupun tetap menjadi aragonit, hal itu dapat terjadi apabila strukturnya
berubah menjadi lebih stabil, karena kandungan ion-ion asing. Selain itu,
kalsit dan aragonit dapat diendapkan di lingkungan terestrial, seperti di dalam
gua batugamping, yang di sekelilingnya terdapat mata air yang jenuh akan
kandungan CaCO3.
Salah satu presipitat
laut yang jarang ditemukan, namun sangat bernilai dari segi ekonomi
adalah Fosforit yang digunakan
sebagai sumber pupuk fosfat.Seperti yang kita ketahui, air laut di bagian dasar
samudera sangat jenuh oleh fosfat kalsium, dan karena terjadi perubahan pada
kondisi fisik-kimianya, walaupun hanya sedikit akan menyebabkan fosforit
terpresipitasi. Bila sedimentasi dari bahan-bahan lainnya lebih sedikit, maka
akan terbentuk lapisan fosforit yang lebih murni.
6. Evaporit
Proses penting dalam
pembentukan sedimen evaporit adalah penguapan. Endapan ini
mempunyai fungsi khusus, yaitu untuk menginterpretasi sejarah geologi daerah
itu, sebagai indikator untuk keadaan yang kering. Berdasarkan asal mula
pengendapannya, sedimen evaporit dibagi menjadi 2, yaitu:
Endapan evaporit
marin terbentuk di laut yang disebabkan oleh air laut yang menguap.
Apabila air laut menguap pada keadaan yang alami, maka yang pertama kali akan
mengendap adalah kalsium karbonat, diikuti oleh dolomit. Dengan berlanjutnya
evaporasi, terendapkanlah kalsium sulfat, yang dapat berupa gipsum, yang
bergantung kepada temperatur dan salinitas air laut, dan pada giliran
berikutnya akan terbentuk halit. Kebanyakan endapan evaporit terdiri atas
kalsium karbonat, namun pada keadaan tertentu dapat juga terendapkan garam
kalsium dan magnesium.
Endapan evaporit non
marin relatif jarang ditemui, atau sangat terbatas, baik dalam
penyebarannya maupun besarnya, tetapi sangat penting dalam arti ekonomi, karena
endapan ini menghasilkan senyawa Boron [B] dan Yodium[I]. Endapan ini
terbentuk di darat karena menguapnya suatu danau garam. Disamping kedua senyawa
tadi, terkandung pula nitrat-nitrat, sejumlah garam kalsium, bromida, dan
gipsum.
C. Lingkungan Metamorfik
Lingkungan ini berada
jauh di bawah permukaan bumi dengan suhu dan tekanan ekstrem yang menyebabkan
re-kristalisasi pada material batuan, namun tetap terjadi pada fase padat.
Faktor lain yang sangat penting dalam metamorfisme adalah aksi dari cairan
kemikalia aktif, karena cairan tersebut dapat merangsang terjadinya reaksi
melalui larutan dan pengendapan kembali. Jika terjadi perubahan material batuan
yang disebabkan oleh cairan ini, maka prosesnya disebut dengan metasomatisme.
1. Tipe-Tipe Metamorfisme & Batuan
Metamorf
Terdapat 2 tipe
metamorfisme, yaitu metamorfisme termal, dan regional. Metamorfisme
termal adalah tipe metamorfisme adalah tipe yang berkembang di sekitar
tubuh batuan plutonik. Pada tipe ini, temperatur metamorfisme ditentukan oleh
jauh dekatnya dengan intrusi magma. Batuan khas dari metamorfisme ini adalah
batutanduk (hornfels). Batu ini mempunyai butir yang halus, dan terkadang
mengandung mineral yang mempunyai kristal yang besar. Berdasarkan komposisi
mineralnya, batutanduk terbagi menjadi batutanduk biotit, piroksen, dan silikat
gamping.
Metamorfisme
regional adalah jenis metamorfisme yang berkembang pada suatu daerah yang
sangat luas, sekitar 1.500 km persegi. Batuan khas dari metamorfisme ini adalah Gneiss,
yang merupakan batuan yang berfoliasi kasar, yang berupa suaru lapisan yang
kontras dengan tebal 1-10mm, dan biasanya berseling di antara mineral terang
dan gelap. Sedangkan Sekis adalah batuan foliasi halus dengan
laminasi yang berkembang baik, sehingga, jika batuan itu pecah, maka akan
terpecah pada bidang laminasi tersebut.
2. Mineralogi Batuan Metamorf
Seperti yang sudah
disebutkan sebelumnya, faktor utama yang mengontrol derajat metamorfisme adalah
temperatur. Namun, batas antara temperatur setiap derajat metamorfisme tidak
dapat diketahui secara pasti.
Dalam prakteknya, derajat
metamorfisme dapat diketahui dengan mineraloginya. Yaitu dengan melihat mineral
yang hilang dan muncul secara bersamaan. Contohnya, Biotit adalah mineral yang
paling umum di batuan metamorf, namun tidak ditemukan di metamorf yang
berderajat rendah, dan digantikan dengan Muskovit dan Khlorit.
Dalam batuan metamorf
berderajat rendah, mineral plagioklas muncul sebagai albit, yang akan bertambah
kandungan kalsiumnya seiring dengan meningkatnya derajat metamorfisme. Mineral
lain seperi kuarsa dapat ditemukan hampir di semua derajat metamorfisme,
sehingga tidak bisa dijadikan indikator dari derajat metamorfisme.
Hidrothermal adalah
larutan sisa magma yang bersifat “aqueous” sebagai hasil differensiasi magma.
Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan
merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan
cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu :
1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang (
opening-opening ) yang sudah ada di dalam batuan.
2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang
telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.
Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai
sirkulasi fluida panas ( 50° – >500°C ), secara lateral dan vertikal pada
temperatur dan tekanan yang bervariasi di bawah permukaan bumi. Sistem ini
mengandung dua komponen utama, yaitu sumber panas dan fase fluida. Sirkulasi
fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi
tidak stabil dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk
himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai
alterasi ( ubahan ) hidrotermal. Endapan mineral hidrotermal dapat terbentuk
karena sirkulasi fluida hidrotermal yang melindi ( leaching ), mentranspor, dan
mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon terhadap perubahan fisik
maupun kimiawi ( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ).
Alterasi merupakan perubahan
komposisi mineralogi batuan ( dalam keadaan padat ) karena adanya pengaruh Suhu
dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral
lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa
sekunder, berbeda dengan metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi
terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur
tertentu yang memungkinkan masuknya air meteorik ( meteoric water ) untuk dapat
mengubah komposisi mineralogi batuan.
Alterasi Hidrothermal
Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang
sangat kompleks yang melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang
disebabkan oleh interaksi fluida panas dengan batuan yang dilaluinya, di bawah
kondisi evolusi fisio-kimia. Proses alterasi merupakan suatu bentuk
metasomatisme, yaitu pertukaran komponen kimiawi antara cairan-cairan dengan
batuan dinding ( Pirajno, 1992 ).
Interaksi antara fluida
hidrotermal dengan batuan yang dilewatinya ( batuan dinding ), akan menyebabkan
terubahnya mineral-mineral primer menjadi mineral ubahan ( mineral alterasi ),
maupun fluida itu sendiri ( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ).
Alterasi hidrotermal akan
bergantung pada :
1.
Karakter batuan dinding.
2.
Karakter fluida ( Eh, pH ).
3.
Kondisi tekanan dan temperatur pada saat reaksi berlangsung ( Guilbert dan
Park, 1986, dalam Sutarto, 2004 ).
4.
Konsentrasi.
5.
Lama aktivitas hidrotermal ( Browne, 1991, dalam Sutarto, 2004 ).
Walaupun faktor-faktor di
atas saling terkait, tetapi temperatur dan kimia fluida kemungkinan merupakan
faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal ( Corbett dan
Leach, 1996, dalam Sutarto, 2004 ). Henley dan Ellis ( 1983, dalam Sutarto,
2004 ), mempercayai bahwa alterasi hidrotermal pada sistem epitermal tidak
banyak bergantung pada komposisi batuan dinding, akan tetapi lebih dikontrol
oleh kelulusan batuan, tempertatur, dan komposisi fluida.
Batuan dinding (wall rock/country
rock) adalah batuan di sekitar intrusi yang melingkupi urat, umumnya
mengalami alterasi hidrotermal. Derajat dan lamanya proses alterasi akan
menyebabkan perbedaan intensitas alterasi dan derajat alterasi (terkait dengan
stabilitas pembentukan). Stabilitas mineral primer yang mengalami alterasi
sering membentuk pola alterasi ( style of alteration ) pada batuan ( Pirajno,
1992, dalam Sutarto, 2004 ). Pada kesetimbangan tertentu, proses hidrotermal
akan menghasilkan kumpulan mineral tertentu yang dikenal sebagai himpunan
mineral ( mineral
assemblage ) (Guilbert dan Park, 1986, dalam Sutarto, 2004). Setiap himpunan mineral
akan mencerminkan tipe alterasi ( type of alteration ). Satu mineral dengan
mineral tertentu seringkali dijumpai bersama ( asosiasi mineral ), walaupun mempunyai
tingkat stabilitas pembentukan yang berbeda, sebagai contoh klorit sering
berasosiasi dengan piroksen atau biotit. Area yang memperlihatkan penyebaran
kesamaan himpunan mineral yang hadir dapat disatukan sebagai satu zona
alterasi. Host rock adalah batuan yang
mengandung endapan bijih atau suatu batuan yang dapat dilewati larutan, di mana
suatu endapan bijih terbentuk. Intrusi maupun batuan dinding dapat bertindak
sebagai host rock.
Reaksi – Reaksi Pada Proses Alterasi
Reaksi – reaksi yang
berperan penting didalam proses alterasi (reaksi kimia antara batuan dengan fluida)
adalah :
·
Hidrolisis
Merupakan proses
pembentukan mineral baru akibat terjadinya reaksi kimia antara mineral tertentu
dengan ion H+, contohnya :
3 KalSiO3 O8 + H2O(aq) Kal3Si3O10 (OH)2 + 6SiO2 + 2K
K – Feldspar Muscovite (Sericite) Kuarsa
·
Hidrasi
Merupakan proses
pembentukan mineral baru dengan adanya penambahan molekul H2O. Dehidrasi adalah
sebaliknya. Reaksi Hidrasi :
2 Mg2SiO4+ 2H2O + 2 H+ Mg3 Si2O5 (OH)4 + Mg2+
Olivine Serpentinite
Reaksi dehidrasi :
Al2Si2O5(OH)4 + 2 SiO2 Al2Si4O10 (OH)4 + Mg2+
Kaolinit Kuarsa Pyrophilite
·
Metasomatisme
alkali – alkali tanah
Contoh:
2CaCO3 + Mg2+ CaMg (CO3)2 + Ca2+
Calcite Dolomite
·
Dekarbonisasi reaksi kimia yang menghasilkan silika dan§ oksida
Contoh :
CaMg(CO3)2 + 2 SiO2 (CaMg)SiO2 + 2 CO2
Dolomite Kuarsa Dioside
·
Silisifikasi
Merupakan proses
penambahan atau produksi kuarsa polimorfnya, contohnya:
2 CaCO3 + SiO2 + 4 H- 2Ca2- + 2 CO2 + SiO2 + 2 H2O
Calcite Kuarsa
·
Silisikasi
Merupakan proses konversi
atau penggantian mineral silikat, contohnya:
CaCO3 + SiO2 CaSiO3 + CO2
Calcite Kuarsa Wollastonite
Tipe Alterasi (Type of Alteration)
Creasey (1966, dalam
Sutarto, 2004) membuat klasifikasi alterasi hidrotermal pada endapan tembaga
porfir menjadi empat tipe yaitu propilitik, argilik, potasik, dan himpunan
kuarsa-serisit-pirit. Lowell dan Guilbert (1970, dalam Sutarto, 2004) membuat
model alterasi-mineralisasi juga pada endapan bijih porfir, menambahkan istilah
zona filik untuk himpunan mineral kuarsa, serisit, pirit, klorit, rutil,
kalkopirit. Adapun delapan macam tipe alterasi antara lain :
1.
Propilitik
Dicirikan oleh kehadiran
klorit disertai dengan beberapa mineral epidot, illit/serisit, kalsit, albit,
dan anhidrit. Terbentuk pada temperatur 200°-300°C pada pH mendekati netral,
dengan salinitas beragam, umumnya pada daerah yang mempunyai permeabilitas
rendah. Menurut Creasey (1966, dalam Sutarto, 2004), terdapat empat
kecenderungan himpunan mineral yang hadir pada tipe propilitik, yaitu :
·
Klorit-kalsit-kaolinit.
·
Klorit-kalsit-talk.
·
Klorit-epidot-kalsit.
·
Klorit-epidot.
2. Argilik
Pada tipe argilik
terdapat dua kemungkinan himpunan mineral, yaitu muskovot-kaolinit-monmorilonit
dan muskovit-klorit-monmorilonit. Himpunan mineral pada tipe argilik terbentuk
pada temperatur 100°-300°C (Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004), fluida
asam-netral, dan salinitas rendah.
3
. Potasik
Zona potasik merupakan
zona alterasi yang berada pada bagian dalam suatu sistem hidrotermal dengan
kedalaman bervariasi yang umumnya lebih dari beberapa ratus meter. Zona
alterasi ini dicirikan oleh mineral ubahan berupa biotit sekunder, K Feldspar,
kuarsa, serisit dan magnetite. Pembentukkan biotit sekunder ini dapat terbentuk
akibat reaksi antara mineral mafik terutama hornblende dengan larutan
hidrotermal yang kemudian menghasilkan biotit, feldspar maupun pyroksen.
Dicirikan oleh
melimpahnya himpunan muskovit-biotit-alkali felspar-magnetit. Anhidrit sering
hadir sebagai asesori, serta sejumlah kecil albit, dan titanit (sphene) atau
rutil kadang terbentuk. Alterasi potasik terbentuk pada daerah yang dekat
batuan beku intrusif yang terkait, fluida yang panas (>300°C), salinitas
tinggi, dan dengan karakter magamatik yang kuat.
Selain biotisasi tersebut
mineral klorit muncul sebagai penciri zona ubahan potasik ini. Klorit merupakan
mineral ubahan dari mineral mafik terutama piroksin, hornblende maupun biotit,
hal ini dapat dilihat bentuk awal dari mineral piroksin terlihat jelas mineral
piroksin tersebut telah mengalami ubahan menjadi klorit. Pembentukkan mineral
klorit ini karena reaksi antara mineral piroksin dengan larutan hidrotermal
yang kemudian membentuk klorit, feldspar, serta mineral logam berupa magnetit
dan hematit.
Alterasi ini diakibat
oleh penambahan unsur pottasium pada proses metasomatis dan disertai dengan
banyak atau sediktnya unsur kalsium dan sodium didalam batuan yang kaya akan
mineral aluminosilikat. Sedangkan klorit, aktinolite, dan garnet kadang
dijumpai dalam jumlah yang sedikit. Mineralisasi yang umumnya dijumpai pada
zona ubahan potasik ini berbentuk menyebar dimana mineral tersebut merupakan
mineral – mineral sulfida yang terdiri atas pyrite maupun kalkopirit dengan
pertimbangan yang relatif sama.
Bentuk endapan berupa
hamburan dan veinlet yang dijumpai pada zona potasik ini disebabkan oleh
pengaruh matasomatik atau rekristalisasi yang terjadi pada batuan induk ataupun
adanya intervensi daripada larutan magma sisa (larutan hidrotermal) melalui
pori-pori batuan dan seterusnya berdifusi dan mengkristal pada rekahan batuan.
Berikut ini ciri – ciri salah satu contoh mineral ubahan pada zona potasik
yaitu Actinolite.
·
Sifat Fisik
Sifat fisik dari mineral
ini ditunjukkan dengan warna hijau sampai hijau kehitaman, Hal ini dikarenakan
komposisi kimia yang terkandung pada mineral ini, densitas pada mineral ini
sebesar 3.03 – 3.24 g/cm3 kekerasan mineral ini adalah 5 – 6 skala mohs, dengan
cerat berwarna agak putih terang, kilap mineral ini termasuk kilap kaca sampai
sutera, Karena komposisi serta tekstur dan sistem mineral pada mineral maka
mineral ini dapat ditembus oleh cahaya hal itu sejalan dengan partikel
paretikel pembentuk mineral ini yang mudah dilalui oleh cahaya, Relief
permukaan sedang/lembut.
Sesuai dengan lingkungan
pembentukanya yaitu pada daerah metamorfosa dan terbentuk di dalam sekis
kristalin dimana temperatur suhu sangat berpengaruh dalam pembentukan mineral
ini, maka mineral ini banyak ditemukan berasosiasi dengan mineral magnetit dan
hematit.
·
Sifat Kimia
Komposisi kimia yang
penting Ca, H, Mg, O, Si, merupakan salah satu mineral anggota Amphibole, rumus
kimia Ca2(Mg, Fe2+)5(Si8O22)(OH)2.
·
Sifat Optik
Sistem kristal monoklin,
kelas kristal prismatic, kembaran berbentuk parallel, optik (α = 14.56-1.63, β=
1.61-1.65, γ = 1.63-1.66).
4. Filik
Zona alterasi ini
biasanya terletak pada bagian luar dari zona potasik. Batas zona alterasi ini
berbentuk circular yang mengelilingi zona potasik yang berkembang pada intrusi.
Zona ini dicirikan oleh kumpulan mineral serisit dan kuarsa sebagai mineral
utama dengan mineral pyrite yang melimpah serta sejumlah anhidrit. Mineral
serisit terbentuk pada proses hidrogen metasomatis yang merupakan dasar dari
alterasi serisit yang menyebabkan mineral feldspar yang stabil menjadi rusak
dan teralterasi menjadi serisit dengan penambahan unsur H+, menjadi mineral
phylosilikat atau kuarsa. Zona ini tersusun oleh himpunan mineral
kuarsa-serisit-pirit, yang umumnya tidak mengandung mineral-mineral lempung
atau alkali feldspar. Kadang mengandung sedikit anhidrit, klorit, kalsit, dan
rutil. Terbentuk pada temperatur sedang-tinggi (230°-400°C), fluida
asam-netral, salinitas beragam, pada zona permeabel, dan pada batas dengan
urat.
Dominasi endapan dalam
bentuk veinlet dibandingkan dengan endapan yang berbentuk hamburan kemungkinan
disebabkan oleh berkurangnya pengaruh metasomatik yang lebih mengarah ke proses
hidrotermal. Hal ini disebabkan karena zona ini semakin menjauh dari pusat
intrusi serta berkurangnya kedalaman sehingga interaksi membesar dan juga
diakibatkan oleh banyaknya rekahan pada batuan sehingga larutan dengan mudah
mengisinya dan mengkristal pada rekahan tersebut, mineralisasi yang intensif
dijumpai pada vein kuarsa adalah logam sulfida berupa pirit, kalkopirit dan
galena. Berikut ini ciri – ciri salah satu contoh mineral ubahan pada zona
potasik yaitu Serisit.
·
Sifat Fisik
Tidak berwarna – putih;
kekerasan 5.5 – 6 skala mohs; kilap kaca; dapat ditembus oleh cahaya; pecahan
conchoidal; cerat putih. Umumnya berasosiasi dengan mineral kuarsa, muskovit,
dan mineral-mineral bijih seperti pirit, kalkopirit,galena, dan lainya. Rumus
kimia Ca[Al2Si4O12].2H2O.
·
Sifat Optik
Sistem kristal monoclinic
dengan kelas kristal prismatic, surface relief sedang, optic nα = 1.498 nγ =
1.502.
5.
Propilitik dalam ( inner propilitik )
Menurut Hedenquist dan
Linndqvist (1985, , dalam Sutarto, 2004), zona alterasi pada sistem epitermal
sulfidasi rendah (fluida kaya klorida, pH mendekati netral) ummnya menunjukkan
zona alterasi seperti pada sistem porfir, tetapi menambahkan istilah inner
propylitic untuk zona pada bagian yang bertemperatur tinggi (>300°C), yang
dicirikan oleh kehadiran epidot, aktinolit, klorit, dan ilit.
6.
Argilik lanjut ( advanced argilic )
Sedangkan untuk sistem
epitermasl sulfidasi tinggi (fluida kaya asam sulfat), ditambahkan
istilah advanced
argilic yang dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral
pirofilit+diaspor±andalusit±kuarsa±turmalin±enargit-luzonit (untuk temperatur
tinggi, 250°-350°C), atau himpunan mineral
kaolinit+alunit±kalsedon±kuarsa±pirit (untuk temperatur rendah,< 180 °C).
7. Skarn
Alterasi ini terbentuk
akibat kontak antara batuan sumber dengan batuan karbonat, zona ini sangat
dipengaruhi oleh komposisi batuan yang kaya akan kandungan mineral karbonat.
Pada kondisi yang kurang akan air, zona ini dicirikan oleh pembentukan mineral
garnet, klinopiroksin dan wollastonit serta mineral magnetit dalam jumlah yang
cukup besar, sedangkan pada kondisi yang kaya akan air, zona ini dicirikan oleh
mineral klorit,tremolit – aktinolit dan kalsit dan larutan hidrotermal.
Garnet-piroksen-karbonat adalah kumpulan yang paling umum dijumpai pada batuan
induk karbonat yang orisinil (Taylor, 1996, dalam Sutarto, 2004). Amfibol
umumnya hadir pada skarn sebagai mineral tahap akhir yang menutupi
mineral-mineral tahap awal. Aktinolit (CaFe) dan tremolit (CaMg) adalah mineral
amfibol yang paling umum hadir pada skarn. Jenis piroksen yang sering hadir
adalah diopsid (CaMg) dan hedenbergit (CaFe).
Alterasi skarn terbentuk
pada fluida yang mempunyai salinitas tinggi dengan temperatur tinggi (sekitar
300°-700°C). Proses pembentukkan skarn akibat urutan kejadian Isokimia –
metasomatisme – retrogradasi.
Dijelaskan sebagai
berikut :
·
Isokimia merupakan transfer panas antara larutan magama dengan batuan
samping, prosesnya H2O dilepas dari intrusi dan CO2 dari batuan samping yang
karbonat. Proses ini sangat dipengaruhi oleh temperatur,komposisi dan tekstur
host rocknya (sifat konduktif).
·
Metasomatisme, pada tahap ini terjadi eksolusi larutan magma kebatuan
samping yang karbonat sehingga terbentuk kristalisasi pada bukaan – bukaan yang
dilewati larutan magma.
·
Retrogradasi merupakan tahap dimana larutan magma sisa telah menyebar
pada batuan samping dan mencapai zona kontak dengan water falk sehingga air
tanah turun dan bercampur dengan larutan.
Berikut ini ciri – ciri
salah satu contoh mineral ubahan pada zona potasik yaitu Kalsit
·
Sifat Fisik
Secara megaskopis mineral
ini berwarna putih, kuning,dan merah; kekerasan 3 skala mohs; cerat putih;
pecahan uneven/irrengular ; densitas 2.711 g/cm3; belahan 1 arah; kilap kaca,
dapat ditembus oleh cahaya.
·
Sifat Kimia.
Komposisi kimia yang
penting C, Ca, O; merupakan anggota dari Calcite grup mineral; mengandung unsur
karbonat; rumus kimia CaCO3. Mineral ini kaya terhadap kandungan kalsium
sehingga dalam proses pelarutan dengan mineral asam ia sangat cepat beraksi.
·
Sifat Optik.
Sistem kristal trigonal,
termasuk dalam kelas hexagonal scalenohedral, optik nω = 1.640 – 1.660 nε =
1.486.
·
Lingkungan Pembentukan.
Terbentuk di laut,
sebagai nodul dalam batuan sedimen, selain itu juga bisa terbentuk pada
urat-urat hydrothermal sebagai mineral gang di dalam berbagai batuan beku.
Umumnya berasosiasi dengan mineral magnetit, hematit.
8.
Greisen
Himpunan mineral pada
greisen adalah kuarsa-muskovit (atau lipidolit) dengan sejumlah mineral asesori
seperti topas, turmalin, dan florit yang dibentuk oleh alterasi metasomatik
post-magmatik granit (Best, 1982, Stempork, 1987, dalam Sutarto, 2004).
9.
Silisifikasi
Merupakan salah satu tipe
alterasi hidrotermal yang paling umum dijumpai dan merupakan tipe terbaik.
Bentuk yang paling umum dari silika adalah (E-quartz, atau β-quartz, rendah quartz, temperatur tinggi, atau
tinggi kandungan kuarsanya (>573°C), tridimit, kristobalit, opal, kalsedon.
Bentuk yang paling umum adalahquartz rendah, kristobalit, dan
tridimit kebanyakan ditemukan di batuan volkanik. Tridimit terutama umum
sebagai produk devitrivikasi gelas volkanik, terbentuk bersama alkali felspar.
Selama proses
hidrotermal, silika mungkin didatangkan dari cairan yang bersirkulasi, atau
mungkin ditinggalkan di belakang dalam bentuk silika residual setelah melepaskan
(leaching) dari dasar. Solubilitas
silika mengalami peningkatan sesuai dengan temperatur dan tekanan, dan jika
larutan mengalami ekspansi adiabatik, silika mengalami presipitasi, sehingga di
daerah bertekanan rendah siap mengalami pengendapan (Pirajno, 1992).
10. Serpentinisasi
Batuan yang telah ada
beruabah menjadi serperite yang mineral utamanya adalah Cripiolite disamping
ada juga mineral – mineral lain. Batuan semuala biasanya batuan basa (
andesitte ) yang berubah karena proses hidrotermal maka batuan basa ini berubah
menjadi serpertisasi. Misal : Geruilite di sulawesi dari kalimantan diubah
menjadi serpentinisasi. Serpentinisasi bisa pula akibat dari pada Weathering,
tetapi daerah yang teralterasi relatif terbatas kecil.
Permasalahannya,
seringkali kita mendapati dalam satu contoh batuan ditemukan beberapa mineral
dari dua tipe atau lebih. Prosedur yang baik untuk tahap awal observasi batuan
tersebut di atas adalah menulis semua mineral yang tampak sebagai himpunan
mineral. Apabila dalam satu batuan dijumpai mineral-mineral klorit, kuarsa,
kalsit, dan kaolinit, maka disebut sebagai himpunan mineral
klorit-kuarsa-kalsit-kaolinit (Sutarto, 2004).
Pola Alterasi (Style of Alteration)
Kuantitas alterasi pada
batuan disebabkan oleh derajat dan lamanya proses alterasi. Terdapat tiga jenis
pola alterasi (Sutarto, 2004), yaitu :
a. Pervasive
Yaitu penggantian seluruh
atau sebagian besar mineral pembentuk batuan. Semua mineral primer pembentuk
batuan telah mengalami alterasi, walaupun intensitasnya berbeda.
b. Selectively pervasive
Proses alterasi hanya
terjadi pada mineral-mineral tertentu pada batuan. Misalnya klorit pada andesit
hanya mengganti piroksen saja, sedangkan plagioklas tidak ada yang terubah sama
sekali.
c. Non-pervasive
Hanya bagian tertentu
dari keseluruhan batuan yang mengalami alterasi hidrotermal.
Proporsi Mineral Alterasi
Proporsi satu mineral
alterasi tertentu dalam batuan digolongkan sebgai berikut (Sutarto, 2004) :
·
Jarang (rare)
: < 1 %
·
Sedikit (minor)
:
1-5%
·
Sedang (moderate)
: 5-10%
·
Banyak (major)
: 10-50%
·
Melimpah (predominant)
: >50%
Derajat Alterasi (Rank of
Alteration)
Derajat alterasi terkait
dengan tingginya temperatur pada saat proses alterasi berlangsung. Derajat
temperatur dicirikan oleh mineral-mineral indeks temperatur tertentu. Sebagai
contoh adalah sikuen pada mineral-mineral kalsium aluminium silikat.
Temperatur (T)
120
Mordenit (NaCaAlSi)
210
Laumonit (NaAlSiO)
250
Wairakit (CaAlSi)
300
Epidot (Ca (Al,Fe) Si)
Garnet
(CaAlSi)
Intensitas Alterasi
a.
Tidak terubah (unaltered)
: tidak ada mineral sekunder
b.
Lemah (weak)
: mineral sekunder <25 batuan="batuan" span="span"
volume="volume">
c.
Sedang (moderate)
: mineral sekunder
25-75% volume batuan
d.
Kuat (strong)
: mineral sekunder >75% volume batuan
e.
Intens (intense)
: seluruh mineral primer terubah (kecuali kuarsa, zirkon, dan
apatit), tetapi tekstur
primernya masih terlihat
f.
Total (total)
: seluruh mineral primer terubah (kecuali
kuarsa, zirkon, dan apatit), serta tekstur primer sudah tidak tampak lagi
Ukuran Mineral
Penggolongan ukuran
mineral seperti yang digunakan pada batuan beku (Morrison, 1997) :
·
Sangat halus (very fine)
: <0 mm="mm" span="span">
·
Halus (fine)
: 0,05 – 1 mm
·
Sedang (medium)
: 1 – 5 mm
·
Kasar (coarse)
: 5 – 30 mm
·
Sangat kasar (very coarse) :
>30 mm
Alterasi yang Terjadi Pada fase
Hidrothermal
Setiap tipe endapan
hidrothermal selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut
altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi minera-mineral
seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida
hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal. Sedangkan
alterasi yang ditimbulkan untuk setiap tipe endapan pada berbagai batuan
dinding dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Alterasi-alterasi yang terjadi pada fase hidrothermal
Keadaan
Batuan dinding
Hasil alterasi
·
Epithermal
Batuan gamping
Silisifikasi
Lava
Alunit, clorit, pirit, beberapa sericit,
mineral-mineral lempung
Batuan beku intrusi
Klorit, epidot, kalsit, kwarsa, serisit, mineral-mineral lempung
·
Mesothermal
Batuan gamping
Silisifikasi
Serpih, lava
Selisifikasi, mineral-mineral lempung
Batuan beku asam
Sebagian besar
serisit, kwarsa, beberapa mineral lempung
Batuan beku basa
Serpentin,
epidot dan klorit
·
Hypothermal
Batuan granit, sekis lava Greissen, topaz, mika
putih, tourmalin, piroksen, amphibole.
Paragenesis endapan
hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit (Fe3O4), hematit
(Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS), galena
(PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit
(SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS),
dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa,
tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat
Sedangkan paragenesis
endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu) sulfida,
sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit
(Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan
kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat,
kuarsa, dan pirit.
Paragenesis
endapanephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu), argentit
(AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinabar
(HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan
mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit
(MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat)
Batas – batas peralihan
antara batuan – batuan yang terbentuk pada kondisi hypotermal ; mesotermal dan
epitermal tidak begitu terlihat, serupa bisa diberikan dengan membandingkan
kandungan – kandungan mineralnya pada endapan hypotermal, mesotermal dan
epitermal, karena ada mineral yang khas terdapat pada kondisi yang tertentu.
Disamping itu ada juga
mineral – mineral yang kita dapat pada semua kondisi (hypotermal , mesotermal
dan epitermal). Misal : mineral Pirite, Chalcopirite dan kwarsa yang bisa
terbentuk pada hampir semua temperatur dari juga hampir semua batuan
memungkinkan terdapatnya mineral tersebut.
Secara umum alterasi
hidrotermal akan membentuk satu “ Aureole “ “ hale “ terhadap tubuh bijih
hidrotermal ataupun “ Channelwey “ termineralisasi yang pada umumnya dapat
diindentifikasi secaara megaskopis di lapangan dan dipetakan menjadi beberapa
zone – subzone berdasarkan asosiasi minerral khusus.
MINERALISASI DAN ALTERASI
Mineralisasi adalah suatu proses
pengendapan mineral bijih (metal) dari media yang membawanya akibat perubahan
lingkungan kimia dan fisik sekitarnya.
Mineralisasi = “
Ore Deposit ”
Klasifikasi “Ore Deposit”
1.
Deposit yang berhubungan dengan Batuan Beku Mafik (Kimberlites, Carbonatite
dll.)
2.
Deposit yang berhubungan dengan Oceanic Crust (Alpine Peridotite Chromite
dll.)
3.
Deposit yang berhubungan dengan intrusi intermediate dan felsik (Porphyry
Base Metal Deposit, Skarn Deposit dll.)
4.
Deposit yang berhubungan dengan Subaerial Volcanism (Epithermal
Silver-Gold Deposit, Carlin-Type Gold Deposit dll.)
5.
Deposit yang berhubungan dengan Submarine Volcanism (VMS Deposit, Banded
Iron Formation dll.)
Porphyry Copper Deposit
Terkait dengan
“porphyritic rocks”
1. Umumnya
berupa epizonal atau hypabyssal dasit, latit, quartz latit, rhyolit, quartz
diorit, monzonit, quartz monzonit dan granit.
2. Porphyritic
texture terjadi akibat proses-proses kimia, termal, barometric yang berlangsung
pada kondisi hypabyssal dengan
tekanan 1-2kb, kedalaman 1.5-4km dan temperatur
750-850 C.
In Fact : Jantung
porphyry copper deposit adalah lingkungan epizonal.
·
Tekanan 1-2kb.
·
Temperatur 250-500 C dan jarang 600 atau 700 C.
Gambar 1. Alterasi pada Porphyry Copper
Gambar 2. Distribusi
bijih dan polanya pada Porphyry Copper
Gambar 3. Porphyry Copper Deposit di Chuquicamata, Chili
Gambar 4 . Aspek Fluida Hidrothermal
Aspek-aspek Fluida Hidrotermal :
·
Temperatur
·
Tekanan
·
Komposisi kimia
Dalam pembentukan alterasi yang paling penting adalah
komposisi kimia
Titik 1 mewakili komposisi larutan chlorine yang dalam
kesetimbangan kimia dengan granodiorit dan “starting point” dari evolusi fluida
hidrothermal
Skarn Deposit
1. Terbentuk akibat interaksi fluida magmatic bertemperatur
tinggi dengan batuan samping limestone yang diikuti oleh proses metasomatism
dan pengendapan bijih
2. Berkembang baik pada batas tubuh intrusi berukuran kecil
hingga sedang dengan komposisi intermediate seperti monzonit dan granodiorit.
Gambar
4-5 Skarn Deposit
ALTERASI
Alterasi adalah Setiap
perubahan dalam mineralogi suatu batuan yang terjadi karena proses-proses
fisika dan kimia, khususnya oleh aktivitas fluida hydrothermal.
Alterasi dicirikan oleh pembentukan mineral-mineral sekunder
yang mengandung hidroksil (biotit, serisit, khlorit, mineral lempung) disamping
kuarsa dan juga karbonat.
Fenomena Alterasi dapat disebabkan oleh:
·
Proses diagenesis pada sedimen
·
Metamorfosa
·
Proses “cooling” post magmatic/volkanik
·
Proses mineralisasi
Produk Alterasi tergantung pada :
·
Jenis reaksi alterasi
·
Komposisi batuan samping (wall rock)
·
Temperatur dan tekanan
Alterasi terjadi akibat reaksi fluida dengan “wall rocks”
Reaksi dalam proses alterasi:
1. Hydrolisis
(keterlibatan H+)
2. Hydration-dehydration
(lepasnya molekul air dari fluid ke mineral dan sebaliknya)
3. Alkali dan
alkali tanah metasomatism (substitusi kation)
4. Decarbonation
(pembebasan CO2)
5. Silicification
(penambahan SiO2)
6. Silication
(penggantian oleh silikiat)
7. Oksidasi dan
reduksi
Kontrol
Temperatur dan pH Dalam Mineralogi Alterasi
Menurut Corbett dan Leach (1996)
temperatur dan pH fluida merupakan dua faktor yang paling utama yang
mempengaruhi mineralogi sistem hidrotermal, (Corbett dan Leach,
1996) membagi kelompok alterasi menjadi 7 group utama :
1. Group
Mineral Silika /kuarsa.
Merupakan mineral yang stabil
pada pH rendah < 2. Pada kondisi yang sangat asam ini, silika opalin,
kristobalit, dan tridimit terbentuk pada suhu <100 amorf="amorf"
c.="c." dingin="dingin" fase="fase" fluida="fluida"
kondisi="kondisi" kuarsa="kuarsa" lebih="lebih"
merupakan="merupakan" pada="pada" ph="ph"
silika="silika" span="span" suhu="suhu" terbentuk="terbentuk"
tinggi.="tinggi." tinggi="tinggi" utama="utama"
yang="yang">
2. Group
Mineral Alunit.
Alunit ternentuk pada pH yang
sedikit lebih besar dari 2, terbentuk bersama dengan group silika dalam
rentang temperatur yang besar, berasosiasi dengan andalusit pada temperatur
yang tinggi (> 300-350C) dan
korundum hadir pada suhu yang lebih tinggi lagi. Ada 4 macam alunit,
alunit steam-heated, alunit supergen, alunit magmatic, dan alunit liquid.
3. Group
Mineral Kaolinit.
Dijumpai pada pH sekitar 4, biasa
hadir bersama group alunit-andalusit-korundum pada pH 3-4. Halloysit merupakan
produk supergene utama group ini. Kaolinit terbentuk pada kedalaman dangkal dan
temperatur yang rendah. Dikit terbentuk pada suhu yang tinggi dan pada suhu
yang lebih tinggi lagi akan terbentuk pirophilit. Diaspor setempatsetempat
dijumpai dalam zona silifikasi yang intens dengan group alunit dan/atau
kaolinit.
4. Group
Mineral Illit.
Terbentuk pada fluida dengan pH
yang lebih tinggi (4-6). Smektit terbentuk pada temperatur < 100°-150ºC,
interlayer illit-smektit (100°-200ºC), illit (200°-250ºC), serisit (muskovit)
>200-250 C, phengit >250-300C. Kandungan smektit pada interlayer illit
smektit akan berkurang bersamaan dengan naiknya temperature. 22 Interlayer
illit-smektit dapat menunjukkan temperatur fluida hidrothermal
padakisaran 160-220 C (Lawless dan White, 1997). Alterasi dengan mineral
alterasi yang dominan illit menunjukkan temperatur fluida pada kisaran 220-270
C (Lawless dkk, 1997). Sebagaimana illit umumnya stabil pada temperature lebih
tinggi dari 220 C, berkurangnya temperatur akan meningkatkan stabilitas
smektit. Pada umumnya illit banyak dijumpai pada zona permeabel dan
permeabilitas berkurang dengan bertambahnya mineral klorit (Lawless dkk, 1997).
5. Group
Mineral Klorit
Pada kondisi pH yang sedikit asam
mendekati netral, fase klorit-karbonat menjadi dominan, dimana mineral ini
terbentuk bersama dengan group illit pada lingkungan transisi pH 5-6.
interlayer klorit-smektit akan terbentuk pada temperatur rendah, dan
klorit akan dominan pada suhu yang lebih tinggi. Klorit bukan merupakan mineral
yang baik untuk indikator paleo temperatur, karena dapat dijumpai pada
temperatur rendah sampai temperatur lebih tinggi dari 300 C, tetapi mineral ini
merupakan mineral yang baik untuk menunjukkan pH pembentukan yang mendekati
netral 6-7 (Lawless dan White, 1997).
6. Group
Mineral Kalksilikat
Group kalksilikat terbentuk pada
kondisi pH netral sampai alkali, pada temperatur rendah membentuk
zeolit-klorit-karbonat, dan epidot diikuti amfibol (umumnya aktinolit)
terbentuk pada temperatur yang lebih tinggi. Di beberapa sistem prehnit atau
pumpellyit dijumpai berasosiasi dengan epidot. Epidot dengan kristalinitas yang
rendah terbentuk pada suhu 180-220 C, pada kristalinitas yang lebih baik pada
suhu yang lebih tinggi (>220-250 C). Amfibol sekunder (aktinolit) terbentuk
pada suhu 280-300 C. Biotit umumnya tersebar luas di dalam atau di
sekitar intrusi porfiri dan terbentuk pada suhu 300-325 C.
7. Phase
Mineral Lain
Mineral Karbonat terbentuk
pada range pH (> 4) dan temperatur yang lebih luas, dan berasosiasi dengan
phase kaolin, illit, klorit, dan kalk-silikat. Mineral yang termasuk dalam
kelompok ini adalah siderit, rhodokrosit, ankerit, kutnahorit, dolomit,
magnesian-kalsit, dan kalsit. Mineral Feldspar umumnya berassosiasi
dengan phase klorit dan kalk-silikat, terbentuk pada pH netral sampai
basa. Mineral yang termasuk kelompok ini adalah albit, adularia, dan orthoklas.
Mineral Sulfat terbentuk pada hampir semua suhu dan temperatur dalam
hidrothermal system. Mineral yang termasuk dalam kelompok ini adalah anhidrit,
gipsum, dan jarosit.

Alterasi
merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan padat) karena
pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dantidak dalam kondisi isokimia menghasilkan
mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan
peristiwa sekunder, berbeda dengan metamorfisme yang merupakan peristiwa
primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan
pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat
mengubah komposisi mineralogi batuan.
Adapun
beberapa contoh-contoh mineral yang dapat terbentuk dari proses alterasi adalah
sebagai berikut :
1. ActinolitCa2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2, Mineral ini
menunjukkan warna hijau gelap, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, kilap
kaca, cerat berwarna putih dan menunjukkan bentuk elongated. Terbentuk pada
suhu 800 – 9000 C, dihasilkan oleh
alterasi dari piroksen pada gabro dan diabas, pada proses metamorfik green
schist facies.
2. Adularia KAlSi3O8, Mineral ini
menunjukkan warna putih-pink, sistem kristal monoklin, belahan 2 arah, kilap
kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk prismatik. Terbentuk pada suhu 7000 C, akibat proses hidrotermal dengan
temperatur yang rendah berupa urat.
3. Albite NaAlSi3O8,
Mineral ini menunjukkan warna putih, sistem kristal triklin, belahan 3 arah,
pecahan tidak rata – konkoidal, kilap kaca, cerat putih. Terbentuk pada suhu
750 – 8000 C, akibat proses hidrotermal
dengan suhu yang rendah dan alterasi dari plagioklas, proses metamorfik dengan
temperatur dan tekanan yang rendah, proses magmatisme dan proses albitisasi.
4.
BiotiteK(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2, Mineral ini
menunjukkan warna hitam, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, pecahan
tidak rata, kilap kaca dan mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk tabular.
Terbentuk pada temperatur 700 – 800 0 C,
terbentuk akibat proses magmatisme, metamorphisme dan proses hidrotermal. Dapat
terbentuk pada daerah magmatisme.
BiotiteK(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2, Mineral ini
menunjukkan warna hitam, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, pecahan
tidak rata, kilap kaca dan mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk tabular.
Terbentuk pada temperatur 700 – 800 0 C,
terbentuk akibat proses magmatisme, metamorphisme dan proses hidrotermal. Dapat
terbentuk pada daerah magmatisme.
5. Clinopiroxene XY(Si,Al)2O6,
Mineral ini menunjukkan warna hijau, biru, sistem kristal monoklin, belahan
tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan betuk prismatik. Terbentuk
pada suhu 900 – 1000 0 C, terbentuk
akibat proses magmatik mafik dan ultramafikplutonic, pada proses metamorfisme
kontak dan regional dengan temperatur yang tinggi. Dapat terbentuk pada daerah
magmatisme bersifat basa.
6. Diopside MgCaSi2O6, Mineral ini
menunjukkan warna hijau, biru, sistem kristal monoklin, belahan tidak rata,
kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan betuk prismatik. Terbentuk pada suhu
900 – 1000 0 C, terbentuk akibat
proses magmatik mafic dan ultramafic plutonic, pada proses metamorphisme
kontak. Lingkungan daerah magmatisme.
7. Dolomite CaMg(CO3)2,
Mineral ini menunjukkan warna putih-pink, sistem kristal heksagonal, belahan
sempurna, pecahan subkonkoidal, kilap kaca, cerat putih. Terbentuk dari proses
hidrotermal pada suhu yang rendah berupa urat, juga dapat terbentuk pada
lingkungan laut akibat proses dolomitisasi batugamping dan proses metamorfik (dolostone
protoliths).
8. Epidote Ca2Al2(Fe3+;Al)(SiO4)(Si2O7)O(OH),
Mineral ini menunjukkan warna hijau, sistem kristal monoklin, belahan jelas 2
arah, pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk
prismatik. Terbentuk pada temperatur 900 – 10000 C,
terbentuk akibat proses metamorphisme pada fasiesgreen schist dan glaucophane
schist dan hidrotermal (propylitic alteration). Proses
magmatik sangat jarang menghasilkan mineral ini.
9. Garnet X3Y2(SiO4)3, Mineral ini menunjukkan
warna hijau gelap atau merah gelap, sistem kristal rhombic dodekahedron,
belahan tidak sempurna, pecahan konkoidal dan menunjukkan kenampakan tabular.
Terbentuk pada suhu 1600 – 18000 C, dapat
terbentuk pada zona kontak magmatic plutons dengan
temperatur yang tinggi, yaitu pada mineralisasi skarn. Selain itu juga dapat
terbentuk akibat proses metamorfisme. Lingkungan terbentuknya pada daerah
magmatisme.
10. Heulandite (Ca,Na)2-3Al3(Al,Si)2Si13O36·12H2O, Mineral ini
menunjukkan warna putih – pink, sistem kristal monoklin, belahan 1 arah,
pecahan subkonkoidal – tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan
bentuk tabular. Terbentuk pada suhu 600 – 7000 C,
akibat proses alterasi dari vitrik tuff dan proses hidrotermal berupa urat pada
basalt, gneiss dan schist.
11. Illite (K,H3O)(Al,Mg,Fe)2(Si,Al)4O10[(OH)2,(H2O)],
Mineral ini tidak berwarna (bening), dan sebagian menunjukkan warna
putih-abu-abu, sistem kristal monoklin, belahan 1 arah sempurna, kilap lemak,
bersifat elastis dan menunjukkan bentuk tabular. Terbentuk pada suhu 700 – 8000 C, hasil dari proses magmatisme khususnya
batuan beku dalam yang kaya akan alumina dan silika (pegmatit dan granit),
dapat merupakan hasil proses metamorfik (mudrock sediment) dan hasil
alterasi dari feldspar.
12. Kaolinite Al2Si2O5(OH)4, Mineral ini
menunjukkan warna putih, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, kilap
mutiara. Terbentuk akibat adanya proses pelapukan dari mineral yang kaya Al dan
hasil proses alterasi dari mineral yang kaya Al dapat terbentuk pada daerah
danau.
13. Laumontite Ca(AlSi2O6)2·4H2O,Mineral
ini menunjukkan warna putih – abu-abu – pink, sistem kristal monoklin, belahan
3 arah, pecahan rata, kilap mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk
elongated prismatik. Terbentuk pada suhu 600 – 7000 C,
akibat proses hidrotermal yang mengisi rongga-rongga pada batuan beku, batuan
sedimen dan metamorf.
14. Microcline (KAlSi3O8),Mineral ini
menunjukkan warna putih-hijau, sistem kristal triklin, belahan 2 arah, pecahan
tidak rata, kilap kaca-mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk prismatik.
Terbentuk pada suhu 7000C, akibat proses
magmatik yang menghasilkanplutonic rock yaitu pegmatit, proses metamorfik
dengan temperatur yang rendah yaitu pada gneiss dan schist dan
proses hidrotermal.
15. Montmorillonite(Na,Ca)0.33(Al,Mg)2(Si4O10)(OH)2·nH2O, Mineral ini
menunjukkan warna putih – abu-abu, sistem kristal monoklin. Terbentuk pada
daerah beriklim tropis yang merupakan hasil alterasi dari feldspar pada batuan
yang miskin silika. Hasil dari pelapukan glass volkanik dan tuff dari
proses hidrotermal.
16. Prehnite Ca2Al(AlSi3O10)(OH)2, Mineral ini
menunjukkan warna kehijauan, sistem kristal orthorombic, belahan sempurna,
pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat berwarna putih dan menunjukkan bentuk
tabular. Terbentuk pada suhu 700 – 8000 C,
akibat proses metamorfisme dan proses hidrotermal yang mengisi rongga pada
batuan volkanik basalt.
17. Wairakite CaAl2Si4O12•2(H2O), Mineral ini
menunjukkan warna putih, dapat terbentuk pada suhu 600 – 7000 C, akibat proses hidrotermal (geothermal
environment), proses metamorfisme burial dengan suhu yang rendah,
reksi dehidrasi dari laumontite pada sedimen tuff.
18.Wollastonite (CaSiO3), Mineral ini
menunjukkan warna putih, sistem kristal triklin, kilap kaca, belahan sempurna 3
arah, pecahan tidak rata, cerat putih dan menunjukkan bentuk tabular. Terbentuk
pada suhu 11000C, akibat proses metamorfisme
kontak pada calcareous dan marl rocks dan dapat terjadi
akibat metamorfisme regional dengan tekanan yang rendah.
19. Zeolite Na2Al2Si3O10-2H2O, Mineral ini
menunjukkan warna abu-abu – putih, sistem kristal monoklin, belahan sempurna 3
arah, pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk
elongated-prismatik. Terbentuk pada temperatur 600 – 7000 C,
akibat proses hidrotermal yang mengisi urat dan rongga pada batuan beku dan
proses metamorpisme burial.












